Iklan

iklan

Iklan

iklan
,

Jelang 91 Tahun NWDI: Ketika Sebuah Madrasah Menjadi Model Peradaban

Redaksi CMI Rabu, 02 September 2026

Foto:Muhammad Harmain,Dosen Studi Islam pasca sarjana IAIN Parepare,Sulawesi Selatan

Oleh: Muhammad Haramain.

Dosen Studi Islam Pacasarjana IAIN Parepare, Sulawesi Selatan.


CMI||Lombok Timur,NTB-Pada 13 September 2026 mendatang, keluarga besar Nahdlatul Wathan akan kembali berkumpul di Pancor, Lombok Timur, untuk memperingati Hari Ulang Tahun (Hultah) ke-91 Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), sekaligus Haul ke-29 pendirinya, Almagfurullah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Bagi jamaah NW, acara ini adalah ritual tahunan yang penuh kehangatan, mulai dari silaturahmi akbar, tausiah, hingga napak tilas perjuangan sang pendiri. Namun di luar kalangan NW, usia 91 tahun sebuah madrasah induk di Pancor sesungguhnya menyimpan pelajaran yang lebih luas tentang bagaimana sebuah institusi pendidikan Islam bisa bertahan hampir satu abad tanpa kehilangan jati dirinya, sementara banyak lembaga sezamannya telah lama menghilang atau berubah bentuk secara drastis.


NWDI berdiri pada 22 Agustus 1937, hanya empat tahun setelah Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pulang dari Mekkah dan mendirikan Pesantren al-Mujahidin di Pancor. Keputusan mendirikan NWDI bukan sekadar membuka sekolah baru. Ia adalah keputusan untuk mengubah cara ilmu agama diajarkan di Lombok, dari pengajian yang bertumpu sepenuhnya pada kehadiran seorang guru, menjadi madrasah dengan kelas berjenjang, kurikulum yang tersusun, dan sistem yang bisa dijalankan oleh guru-guru lain, bukan hanya oleh pendirinya sendiri.

Sebelum NWDI, pendidikan agama di Lombok sangat bergantung pada figur Tuan Guru, otoritas yang dibangun dari kedalaman ilmu, kedekatan personal dengan santri, dan kewibawaan yang sulit dipisahkan dari kehadiran fisik sang guru. Model ini kuat secara spiritual, tetapi rapuh secara struktural karena jangkauannya terbatas pada radius di mana sang guru bisa hadir dan mengajar langsung. Zainuddin, yang sempat menempuh pendidikan di Madrasah al-Shaulatiyah di Mekkah, membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar ilmu. Ia membawa pulang pengalaman tentang bagaimana ilmu-ilmu keislaman klasik bisa diorganisasi secara sistematis tanpa kehilangan keaslian isinya. NWDI adalah hasil dari pengalaman itu, diadaptasi ke dalam konteks masyarakat Sasak dan kondisi kolonial pada masanya.


Yang membuat NWDI layak direnungkan kembali sembilan puluh satu tahun kemudian bukan sekadar usianya, melainkan pola yang ia wariskan pada seluruh jaringan pendidikan Nahdlatul Wathan sesudahnya. Enam tahun setelah NWDI berdiri, pada 1943, Zainuddin mendirikan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) untuk santri perempuan, sebuah langkah maju yang membuka akses pendidikan agama secara sistematis kepada kelompok yang sebelumnya jauh lebih terbatas kesempatannya. Sepuluh tahun kemudian, pada 1953, berdirilah Nahdlatul Wathan sebagai organisasi yang menaungi jaringan madrasah yang terus berkembang. Pada 1965, lahir Ma'had Darul-Qur'an wa al-Hadith (MDQH) sebagai pusat pendidikan lanjutan bagi calon ulama dan mubaligh.


Di setiap tahap ini, pola yang sama berulang, yaitu institusi berubah tetapi rujukan keilmuannya tidak. NWDI, NBDI, MDQH, dan seluruh madrasah cabang yang tumbuh dari mereka tetap berpijak pada Ahlussunnah wal Jamaah, fikih mazhab Syafi'i, kajian Al-Qur'an dan hadis, serta metode talaqqi dan halaqah yang mengandalkan hubungan langsung antara guru dan murid. Yang dimodernkan bukan isi ajaran, melainkan cara ajaran itu disampaikan, direproduksi, dan diwariskan lintas generasi. Kelas berjenjang tidak menggantikan halaqah, melainkan mewadahinya dalam skala yang jauh lebih besar dari yang bisa dicapai oleh satu orang guru seorang diri.


Pembedaan ini penting karena wacana tentang pembaruan Islam di Indonesia sering dibingkai sebagai pertentangan antara kubu "modernis" yang merombak tafsir keagamaan dan kubu "tradisionalis" yang mempertahankannya apa adanya. NWDI dan jaringan yang lahir darinya menunjukkan bahwa sebuah institusi bisa sangat progresif dalam cara ia mengelola pendidikan, mulai dari kurikulum, jenjang kelas, pelatihan guru, pendidikan perempuan, hingga pendidikan tinggi, sekaligus tetap teguh menjaga rujukan doktrinalnya. Reformasi, dalam pengertian ini, tidak selalu berarti mengubah apa yang diajarkan. Ia bisa berarti mengubah bagaimana sesuatu itu bisa terus diajarkan, kepada siapa, dan sampai kapan.


Haul ke-29 yang diperingati bersamaan dengan Hultah NWDI tahun ini adalah pengingat bahwa Maulana Syaikh Zainuddin Abdul Madjid telah wafat hampir tiga dekade lalu, pada 21 Oktober 1997. Fakta bahwa madrasah yang ia dirikan masih berdiri, masih menerima santri baru setiap tahun, dan masih diperingati hari lahirnya oleh ribuan jamaah dari berbagai penjuru Indonesia adalah bukti nyata bahwa apa yang ia bangun bukan sekadar pengajian yang bergantung pada karismanya semata.


Inilah barangkali pelajaran paling penting dari NWDI untuk pendidikan Islam Indonesia hari ini. Otoritas keagamaan yang bersifat personal, betapa pun besarnya, memiliki keterbatasan alami karena terikat pada usia dan kehadiran fisik seseorang. Zainuddin mengatasi keterbatasan itu bukan dengan mengecilkan peran ulama, melainkan dengan menciptakan struktur, mulai dari kelas, kurikulum, jenjang pendidikan guru, hingga organisasi, yang memungkinkan otoritas keilmuan itu direproduksi oleh murid-muridnya, dan murid dari murid-muridnya, jauh melampaui masa hidupnya sendiri. Santri lulus, menjadi guru, sebagian mendirikan cabang madrasah baru, dan siklus itu terus berulang hingga sembilan puluh satu tahun kemudian.


*Gema Warisan Itu pada Generasi Sekarang*


Kepemimpinan NWDI hari ini dipegang oleh cucu sang pendiri sendiri, TGB Dr. KH. Muhammad Zainul Majdi, yang akrab disapa Tuan Guru Bajang. Dalam berbagai kesempatan Hultah beberapa tahun terakhir, ia berulang kali menegaskan bahwa perjuangan Nahdlatul Wathan harus diteruskan lewat penguatan lembaga pendidikan itu sendiri. Pada peringatan Hultah ke-89 tahun 2024, misalnya, ia mengajak seluruh jemaah untuk terus memajukan mutu lebih dari seribu seratus madrasah yang tersebar di Nusa Tenggara Barat dan seluruh Indonesia, baik dari sisi kualitas tenaga pengajar maupun fasilitas belajar, agar terus lahir kader yang berkualitas. Dua tahun sebelumnya, dalam Hultah ke-87, ia juga menegaskan bahwa kekerasan fisik terhadap santri tidak bisa dibenarkan di lingkungan pesantren manapun, termasuk di lingkungan NWDI sendiri, karena pendidikan agama semestinya ditegakkan lewat cara yang lebih bermartabat. Kedua pesan ini menunjukkan bahwa semangat menata ulang infrastruktur pendidikan, tanpa mengorbankan nilai yang menjadi rujukannya, terus berlanjut hingga generasi ketiga kepemimpinan NW.


Yang lebih menarik, TGB juga menjadi salah satu suara yang belakangan diminta merespons langsung tantangan kecerdasan buatan bagi dunia keagamaan. Dalam sebuah seminar nasional bertajuk Ketika Ulama Bertemu Algoritma yang digelar Majelis Hukama Muslimin bersama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Desember 2025, ia duduk bersama Quraish Shihab membahas soal itu. Ia menggarisbawahi bahwa perdebatan tentang kecerdasan buatan sesungguhnya menyangkut soal otoritas keagamaan, bukan soal eksistensi agama itu sendiri, sebab eksistensi agama tetap terjaga apapun yang terjadi pada teknologi. Ia juga mengingatkan bahwa kehadiran mesin secerdas apapun tidak mengubah kedudukan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Konsep manusia sebagai makhluk berpikir dalam pandangan Islam, katanya, tidak hanya soal kemampuan kognitif yang mungkin suatu saat bisa dilampaui mesin, melainkan juga menyangkut hikmah dan kedalaman spiritual yang tidak dimiliki kecerdasan buatan manapun. Ia menutup dengan mengingatkan bahwa umat Islam pernah beberapa kali berhadapan dengan perubahan besar sepanjang sejarah, misalnya ketika masyarakat Madinah mula mula bersentuhan dengan peradaban besar Persia dan Romawi, dan setiap kali berjumpa dengan sesuatu yang revolusioner semacam itu, yang penting dijaga adalah jangan sampai kehilangan prinsip.


Cara berpikir semacam ini sebenarnya adalah gema langsung dari apa yang dirintis kakeknya di Pancor 91 tahun lalu. Sama seperti Zainuddin yang memodernkan cara ilmu agama diajarkan tanpa mengubah rujukan doktrinalnya, TGB pun memisahkan dengan jernih antara persoalan otoritas dan infrastruktur keagamaan di satu sisi, dengan fondasi keimanan dan kedudukan manusia di sisi lain. Kecerdasan buatan boleh mengubah cara umat mencari informasi keagamaan, tetapi itu adalah persoalan cara, bukan persoalan isi.


*Yang Layak Direnungkan Bersama Hultah Tahun Ini*


Ketika ribuan jamaah berkumpul di Pancor pada 13 September mendatang, ada baiknya peringatan ini tidak hanya menjadi ajang nostalgia atau silaturahmi semata, meskipun keduanya penting. Ia juga bisa menjadi momentum untuk bertanya kembali, bagian mana dari warisan Zainuddin yang paling relevan diteruskan hari ini. Jawabannya, jika belajar dari sejarah pendirian NWDI sendiri dan dari cara generasi penerusnya merespons zaman, bukan terletak pada mempertahankan bentuk kelembagaan tahun 1937 secara harfiah, melainkan pada semangat di baliknya, yaitu keberanian untuk terus menata ulang cara ilmu agama diajarkan, tanpa pernah kehilangan pegangan pada sumber-sumber yang menjadi rujukannya.


Pendidikan Islam di Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dari yang dihadapi Zainuddin sembilan dekade lalu, mulai dari persaingan dengan sistem pendidikan sekuler, tuntutan kurikulum nasional, hingga disrupsi kecerdasan buatan yang mengubah cara generasi muda mengakses informasi keagamaan. Namun logika dasar yang diwariskan NWDI tetap berlaku. Lembaga yang mampu bertahan bukanlah yang menolak seluruh perubahan atas nama menjaga tradisi, juga bukan yang mengubah segalanya demi mengejar zaman, melainkan yang mampu memilah dengan jernih antara apa yang harus dimodernkan agar tetap relevan, dan apa yang harus dijaga agar tidak kehilangan makna.


Sembilan puluh satu tahun setelah berdirinya, NWDI masih berdiri bukan karena ia berhenti berubah, melainkan karena ia tahu persis bagian mana dari dirinya yang tidak boleh berubah. Itulah warisan yang pantas direnungkan bersama, jauh melampaui batas batas jamaah NWDI sendiri.(CMI-03)




Tutup komentar

Komentar

ads-before

========== kode iklan ==========

ads-inline/3

========== kode iklan ==========

ads-after

Baca Juga

3/random/4/baca-juga