CMI||Lombok Timur,NTB — Puncak Hultah ke-91 Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) sekaligus Haul ke-29 Almaghfurulahu Maulana Asy-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berlangsung khidmat di Pancor, Lombok Timur, Ahad (13/9/2026).
Mengusung tema “Teguhkan Iman Takwa, Gerak NWDI untuk Kemajuan Ummat dan Keunggulan Bangsa”, kegiatan tersebut dihadiri ribuan jamaah dari berbagai daerah. Sejumlah ulama dan tokoh nasional turut hadir memberikan tausiyah dan pesan keumatan, di antaranya TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA, Prof. Dr. Ustadz Abdul Somad, Lc., PhD, Al-Habib Jindan Bin Naufal Bin Salim Bin Jindan, serta Prof. Dr. Ala Musthafa Na'imah.
Peringatan Hultah dan Haul tersebut tidak hanya menjadi momentum mengenang perjuangan Maulana Syaikh, tetapi juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali warisan keilmuan, keteladanan, pendidikan, persatuan, serta semangat pengabdian kepada umat dan bangsa.
Pra-Hultah Diwarnai Beragam Kegiatan
Ketua YPHPPD NWDI Pancor, H. Muhammad Djamaluddin, dalam sambutannya melaporkan rangkaian kegiatan pra-Hultah yang telah dimulai sejak 30 Agustus 2026.
Salah satu agenda terbesar adalah Pawai Ta'aruf yang berlangsung selama dua hari, 11–12 September 2026. Pawai tersebut menjadi bagian dari rangkaian penyambutan jamaah sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dalam menyambut puncak Hultah ke-91.
H. Muhammad Djamaluddin juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Pancor yang telah menerima dan menyambut para jamaah yang datang dari berbagai daerah.
“Terima kasih kepada masyarakat Pancor yang telah menyambut kehadiran para jamaah dengan penuh keramahan,” ujarnya.
Prof. Ala: Jangan Hanya Mengenang, Hidupkan Warisan Keilmuan
Prof. Dr. Ala Musthafa Na'imah mengajak jamaah untuk mengenal kembali sosok dan warisan keilmuan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.
Menurutnya, mengenang Maulana Syaikh tidak cukup hanya dengan mengingat nama dan jasa beliau. Hal yang lebih penting adalah melestarikan dan meneruskan ajaran, manhaj, serta tradisi keilmuan yang telah diwariskan.
Salah satu keistimewaan Maulana Syaikh, menurut Prof. Ala, adalah kemampuan mengintegrasikan tradisi pendidikan Islam klasik dengan metode Al-Azhar Al-Syarif.
Maulana Syaikh mampu memadukan khazanah ilmu terdahulu dengan ilmu kontemporer. Lebih dari itu, beliau mampu melahirkan generasi dan komunitas yang bersatu untuk mengamalkan ilmu dalam kehidupan.
Kemampuan tersebut membuat pengaruh keilmuan Maulana Syaikh berkembang luas hingga beliau dikenal dengan julukan “Abul Madaris wal Masajid.”
Prof. Ala juga menguraikan tiga aspek penting dalam warisan Maulana Syaikh, yakni dakwah, tasawuf, serta pengabdian kepada bangsa dan negara.
Dakwah Maulana Syaikh, katanya, memiliki semangat global. Sejak menuntut ilmu, beliau telah berinteraksi dengan ulama dari berbagai wilayah. Tradisi tersebut kemudian dilanjutkan oleh generasi penerus, termasuk TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi yang menuntut ilmu di berbagai negara sekaligus menghadirkan ulama dari berbagai penjuru dunia untuk berbagi ilmu di Lombok.
Ulama Mewariskan Ilmu dan Keteladanan
Pesan tentang pentingnya ilmu juga disampaikan Al-Habib Jindan Bin Naufal Bin Salim Bin Jindan.
Ia mengingatkan jamaah bahwa ulama merupakan pewaris para nabi. Warisan para nabi, katanya, bukan berupa harta, emas, ataupun perak, melainkan ilmu.
Namun, ilmu yang diwariskan bukan sekadar teori. Ilmu harus menyatu dengan amal, ketakwaan, dan rasa takut kepada Allah SWT.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan Islam tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi harus melahirkan manusia yang berilmu sekaligus berakhlak.
UAS: Jangan Sekadar Mengantar Anak ke Sekolah
Sementara itu, Prof. Dr. Ustadz Abdul Somad (UAS) menyampaikan pesan tentang pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak.
Dengan gaya khasnya, UAS membuka tausiyah dengan humor ringan.
“Dari bunyi salam sepertinya jamaah belum makan,” katanya, yang disambut tawa dan tepuk tangan jamaah.
UAS kemudian mengisahkan perjalanan Tuan Guru Abdul Madjid yang mengantarkan putranya menuntut ilmu ke Makkah Al-Mukarramah. Perjalanan dilakukan dengan kapal laut, menghadapi ombak dan gelombang hingga akhirnya sampai ke Tanah Suci.
Di Makkah, Tuan Guru Abdul Madjid mencari guru terbaik dan menyerahkan pendidikan anaknya kepada Syekh Hasan Al-Mashab.
Dari kisah tersebut, UAS menekankan bahwa orang tua tidak cukup hanya mengantarkan anak mendaftar sekolah, memperoleh kartu mahasiswa, kemudian pulang.
Anak harus didekatkan dengan guru, syekh, ulama, serta lingkungan yang baik.
“Jangan hanya sekadar mengantar, mendaftarkan, mendapatkan kartu mahasiswa lalu pulang. Dekatkan anak dengan syekh, dengan guru,” pesan UAS.
Ia juga mengajak para orang tua meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi setelah mereka.
“Jangan mati sebelum meninggalkan heritage. Apa yang bisa kita tinggalkan untuk orang setelah kita?” katanya.
Menurut UAS, warisan terbesar bukan hanya harta, tetapi ilmu, lembaga pendidikan, keteladanan, dan generasi yang meneruskan kebaikan.
Hultah Bukan Sekadar Seremonial
UAS juga menegaskan bahwa Hultah dan Haul bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi momentum mempererat silaturahmi.
Ia menceritakan pertemuannya dengan TGB pada malam sebelumnya. Meski sehari sebelumnya telah mengisi tausiyah di lima lokasi dan berada dalam kondisi lelah, pertemuan dengan orang-orang yang dicintai justru memberikan semangat baru.
UAS juga menyampaikan bahwa persahabatan sejati akan terlihat ketika terjadi perbedaan pendapat.
Menurutnya, dalam perbedaan seseorang akan memperlihatkan sifat aslinya. Ia mengaku bersyukur dapat bersahabat dengan TGB tanpa pernah saling menyerang ataupun mengeluarkan kata-kata kasar.
“Ketika kita bisa berjalan bersama di jalan Allah SWT, berteman dan bersahabat di dunia, mudah-mudahan bersaudara hingga ke surga,” ujarnya.
TGB: Wariskan Apa yang Telah Diwariskan
Sementara itu, TGB Dr. Muhammad Zainul Majdi, Lc., MA mengajak seluruh jamaah, khususnya murid dan sahabat perjuangan Maulana Syaikh, untuk bersama-sama menjaga dan meneruskan warisan perjuangan beliau.
Menurut TGB, keberkahan perjuangan NWDI akan terus mengalir apabila generasi hari ini tidak hanya mengenang guru, tetapi juga meneruskan apa yang telah diwariskan.
Ia menekankan bahwa salah satu asas pendidikan yang dijalankan Maulana Syaikh adalah membangun manusia, bukan sekadar mentransfer pengetahuan.
Konsep tersebut, kata TGB, sejalan dengan misi Rasulullah SAW dalam mendidik umat. Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan ilmu secara umum, tetapi mendidik para sahabat satu demi satu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.
TGB menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW mendidik Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, keluarga beliau, serta para sahabat secara bertahap.
“Pendidikan bukan hanya mengajar membaca, tetapi membangun jiwa manusia,” pesan TGB.
Dari Pancor, Warisan Itu Harus Terus Bergerak
Puncak Hultah ke-91 NWDI dan Haul ke-29 Maulana Syaikh akhirnya menjadi lebih dari sekadar peringatan tahunan.
Momentum tersebut menjadi ruang untuk mengenang jasa, mempertemukan jamaah, menyegarkan kembali ingatan terhadap warisan keilmuan, sekaligus meneguhkan tekad untuk meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Dari Pancor, pesan itu kembali ditegaskan: iman dan takwa menjadi fondasi, ilmu menjadi bekal, keteladanan menjadi jalan pendidikan, persatuan menjadi kekuatan, dan pengabdian kepada umat serta bangsa menjadi jalan perjuangan.
Warisan Maulana Syaikh tidak cukup hanya dikenang. Warisan itu harus dipelajari, diamalkan, diwariskan, dan digerakkan agar tetap relevan menjawab tantangan zaman serta memberi manfaat bagi kemajuan umat dan keunggulan bangsa.(CMI/AZ)

Komentar
Posting Komentar