![]() |
| Momentum penyambutan dan penganugerahan songkok kere (songkok lontar) berukuran besar oleh Guru Bajang Muhamad Yusuf Hamdani kepada Gubernur NTB,H.L.Muhammad Iqbal |
CMI||Lombok Timur, NTB- Suasana khidmat dan penuh kesakralan mewarnai pelaksanaan Tasyakuran Gumi Paer Sekaroh serta Khitanan Massal Keluarga Besar Tarekat Naqsabandiyah, yang digelar dengan semangat religius, sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kegiatan ini diawali dengan ungkapan syukur ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, serta shalawat dan salam kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Acara ini dihadiri langsung oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhammad Iqbal, unsur Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta Keluarga Besar jamaah Tarekat Naqsabandiyah.
Rangkaian kegiatan semakin semarak dengan penampilan kesenian tradisional khas Sasak, yakni Gendang Beleq dan Perajean, yang melibatkan kurang lebih 60 barungan (rombongan atau grup kesenian).
Dentuman iringan gendang dan lantunan irama tradisional menggema di seluruh lokasi kegiatan, menciptakan suasana yang sakral, penuh semangat, dan sarat nilai budaya.
Kehadiran kesenian ini menjadi simbol kekayaan tradisi lokal yang hidup berdampingan secara harmonis dengan nilai-nilai religius dan sosial masyarakat Sekaroh.
Dan salah satu rangkaian utama kegiatan adalah penanaman pohon produktif yang dipimpin langsung oleh Gubernur NTB.
Penanaman ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus komitmen bersama dalam menjaga kelestarian alam Gumi Paer Sekaroh.
Adapun bibit pohon yang ditanam merupakan dukungan dari DLHK Provinsi NTB dan BPDAS, sebagai bentuk sinergi nyata antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Kegiatan ini di gelar di Dusun Tukep-ukep,Desa Sekaroh Kecamatan Jerowaru,Kabupaten Lombok Timur 4-5 Januari 2026/14-15 Rajab 1447 H.
Guru Bajanh Muhammad Yusuf Hamdani, selaku yang menggelar acara Tasyakuran Gumi Paer Sekaroh, menjelaskan latar belakang digelarnya acara ini.
Ia menjelaskan, bahwa kata Gumi artinya Tempat/Wadah/ Isatana, dan Paer Artinya air, artinya Tempat yang membutuhkan air.
Dan mengembalikan Sekaroh, seperti yang di kenal pada cerita-cerita terdahulu, dimana Sekaroh ini adalah hutan.
Selain itu, Ia menjelaskan bahwa acara ini merupakan wujud syukur kita, atas limpahan rizki.
" Dulu di sini sering gagal panen, sekarang Alhamdulillah bisa sampai dua kali tanam jagung," jelasnya.
Oleh karena itu, Ia mengajak semua masyarakat untuk mensyukuri nikmat yang sudah di berikan.
Selain kegiatan penanaman sejuta pohon,juga di rangkaikan dengan khitanan massal yang di ikuti puluhan orang dari kalangan keluarga besar keturunah Syeikh TGH.Ali Batu,dan dari kalangan jamaah serta masyarakat kurang mampu
Acara ini juga turut mengundang Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) L. Muhammad Iqbal.
Setibanya di lokasi kegiatan, Gubernur NTB disambut penuh kebanggan oleh Guru Ucuf,sapaan akrab Muhammad Yusuf Hamdani bersama keluarga Keluarga Besar keturunan TGH.Ali Batu dan jamaahTarekat Naqsabandiyah.
Dalam prosesi penyambutan yang sarat makna budaya dan spiritual tersebut, Guru Bajang Muhammad Yusuf Hamdani mewakili keluarga Besar tarekat menyematkan Songkok Kere (Songkok dari daun Lontar) atau songkok khas sasak yang biasanya digunakan oleh pengembala atau petani, kepada Gubernur NTB.
Songkok Kere yang disematkan memiliki nilai historis dan emosional yang mendalam, karena merupakan peninggalan leluhur. Penyematan ini menjadi simbol penghormatan, doa, serta ikatan batin antara ulama, masyarakat, dan pemimpin daerah, sekaligus wujud pelestarian budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
"Lewat "songkok kere" ini saya ingin berpesan, songkok yang besar ini sdalah wujud pohon pohon besar yang rindang dan meneduhkan karena banyak umat dan makhluk yang akan berteduh di bawah kepemimpinan plungguh," Tutupnya.
Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhammad Iqbal,dalam sambutannya merasa bangga bisa hadir di acara yang luar biasa manfaatnya untuk sesama manusia dan alam.
" Kita hadir pada kesempatan ini untuk bersyukur, tidak lain dan tidak bukan untuk bersyukur dalam rangka memenuhi janji Allah, bahwa kalau kita bersyukur akan di tambahkan nikmat itu, dan salah satu bentuk syukurnya yaitu menanam pohon bersama," Ungkapnya di depan semua tamu undangan.
"Ia mengungkapkan bahwa Sekaroh dulu di kenal dengan hutan sekaroh, namun sekarang sudah tidak ada hutan, sehingga harapannya dengan penanaman pohon ini, sekaroh bisa seperti dulu, pada masa nenek moyang.
Dulu disebut gawah sekaroh, namun sekarang sudah tidak ada gawah dan sekarang dengan penanaman pohon ini, insyaallah kita akan kembalikan Sekaroh seperti Sekaroh pada masa nenek moyang, kita hutankan kembali Sekaroh" Ungkapnya.
"Supaya rakyat dan Masyarakat memetik manfaat dari hutan itu, karena yang kita tanam adalah pohon-pohon produktif," lanjutnya.
"Ia sangat bangga kepada Guru Bajang Muhammad Yusuf Hamdani, sebagai penjaga tradisi Sekaroh , penerus tradisi Sekaroh.
"Kita sama-sama bantu menjaga tradisi Sekaroh ini dengan menghijaukan kembali Sekaroh, sehingga dengan Sekaroh hijau, sapi, kerbau, kambing ayam bisa merasakan hijaunya sekaroh dan lestarinya Sekaroh," Ungkapnya.
"Sehingga ke depannya kembali menjadi sekar menjadi surga yang memiliki jiwa, ruh yang akan kita lestarikan bersama-sama" Jelasnya.
Karena sesungguhnya seluruh alam semesta ini adalah ciptaan Allah, dan kepadanyalah bersujud.
Hanya kepada Allah bersujudnya semua yang ada di bumi dan di langit, artinya bahwa gunung bersujud, sapi bersujud, batu bersujud, bumi bersujud artinya kalau dia bersujud, dia hidup, kalau bisa bersujud berarti bisa ngambek," jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa bencana-bencana yang terjadi di sekitar kita, adalah salah satu pengingat agar tidak melakukan hal yang sama.
" Bisa kita lihat saudara -saudara kita di Aceh sekarang, lihat di Sumatera Utara, lihat Sumatra barat, hal ini terjadi karena kita tidak perlakuan alam seperti kita memperlakukan diri kita sendiri, karena kita tidak mencintai alam seperti seperti kita mencintai diri kita sendiri, karena itu harmoni hilang, karena harmoni hilang, alam nggan untuk menyapa, alampun seolah marah, banjir bandang tiba, maka bencana alam datang" ungkapnya.
"Bencana adalah ekspresi dari marahnya alam kepada manusia, karena kita gagal memperlakukan alam seperti kita berbuat baik sesama manusia," jelasnya lebih lanjut.
"Mudah-mudahan dengan apa yang kita lakukan hari ini, bisa menyelamatkan kita semua di kemudian hari," Tutupnya.(CMI)





Komentar
Posting Komentar