CMI||Lombok Timur, NTB- 50 Lansia (lanjut usia) di wisuda S2, usai menyelesaikan tahap pembelajaran tingkat 2, mereka juga sebelumnya pernah di wisuda S1 pada 2024, kini di lanjut wisuda S2 (Standar 2) pada Senin (12/01/2026).
Adapun sekolah yang di wisuda ini, yakni dari Desa Bagek Payung Selatan kecamatan Suralaga.
Program yang diinisiasi melalui Mitra Kolaborasi Sharing Happiness ini menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dalam mendongkrak kualitas hidup di Lombok Timur.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur, dr. Hasbi Santoso, menjelaskan bahwa perjalanan para wisudawan ini cukup panjang. Mereka sudah lulus Standar 1 (S1) pada November 2024, dimana pembelajaran jasmani, spiritual,dan gizi.
" Mereka juga sebelumnya sudah di wisuda pada 2024, karena sudah menyelesaikan pembelajaran standar 1," Jelas Hasbi Santoso.
Sedangkan di S2 ini, pembelajarannya lebih meningkat, tentang kesehatan jasmani dan rohani, dan juga di berikan keterampilan, seperti memasak, seni, sesuai dengan bakat dan keinginan masing-masin.
" Setelah lulus S2, para lansia di berikan pembelajaran lanjutan, yakni diberikan keterampilan seperti memasak, seni atau sesuai dengan bakat dan keinginan masing-masing," lanjutnya.
Dengan di wisudanya S2 ini, sudah lulus pembelajaran standar 2, diharapkan para lansia memiliki masa tua, yang produktif.
Asisten III Setda Lombok Timur, Husnul Basri, menjelaskan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Lombok Timur berada di peringkat ke-5 di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dengan adanya program ini, Ia berharap di usia lansia, mereka masih bisa produktif, dan tidak menjadi lansia yang bergantung.
"Secara statistik, wisuda lansia ini diharapkan berkontribusi positif terhadap peningkatan IPM. Kita ingin lansia kita mandiri, produktif, dan tidak menjadi beban bagi keluarga," ujar Husnul Basri.
Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada Kecamatan Suralaga dan Desa Bagik Payung Selatan yang menjadi motor penggerak program ini, sembari berharap model serupa direplikasi di seluruh wilayah Lombok Timur.
Data dari Kemendukbangga/BKKBN NTB menunjukkan tantangan besar di depan mata. Populasi lansia di Indonesia diproyeksikan melonjak hingga 50-70 juta jiwa.
Dr. Drs. Lalu Makripuddin dari BKKBN NTB mengungkapkan bahwa 50 persen lansia di Indonesia masih bergelut dengan masalah kesehatan dan ekonomi.
"Ini langkah konkret menuju Indonesia Emas 2045, di mana kita ingin lansia tetap berdaya, bukan menjadi beban," kata Lalu Makripuddin. (Rahma/CMI/02)

Komentar
Posting Komentar